Posts

deskripsi

rasanya..., katanya.   seperti melayang.  tentu di udara, ya dimana lagi. tak terlalu tinggi- melayang rendah  lebih seperti... terombang-ambing.  dia memejam mata.   mengambang.  pada hening tanpa letup-letup reaktif. mengeksaminasi fantasi.   pada sejuk yang semilir... membawa diri dalam sensasi.  tapi kadang panas.  panas yang... impulsif?  meraba rasa.   i mpulsif aku bisa bilang. menerjemahkannya jadi aksara. seperti disundut. sakit? dia melirik, tak menghiraukan. kemudian ada yang berdetak. hm? tidak memburu cepat namun terasa... berbeda? berbeda .  Catatan pada suatu pagi yang tak biasa.  Ketika ia mengambang pada hening yang semilir dengan sekelebat panas yang membawanya pada deru, yang tak biasa.

iya..tidak

seharusnya iya dan tidak tak pernah taksa karena keduanya ditakdirkan untuk berbeda oh- bahkan jadi pem beda seharusnya iya dan tidak tak membiarkan kami mengisi ruang antara mereka karena, yah, percuma jarak mereka sejauh apa jika pada akhirnya dijembatani segala rupa lupa segala asa segala takut cemas dan buruk sangka  hingga akhirnya  terdapat terlalu megah ruang  untuk kami berpindah dengan tenang  dari sana ke sini;  menyebrang cantik,  melenggang indah,  tanpa rasa bersalah. seharusnya, iya dan tidak tak disandingkan, --dipersatukan, dalam sebuah sajak oleh kata 'dan' karena mereka, sejatinya adalah pilihan bukan irisan.

Dimana awal, Dimana Akhir

Ternyata akhir-akhir yang ia kira akhir belum berakhir. Malah tertunda pada ujung yang terpaksa usai di setiap ‘selamat malam’-nya yang lumat dalam nada suaranya yang lindap-hangat. Alasannya, mungkin, salah satunya, adalah karena awal-awal yang mereka kira awal belum benar-benar dimulai.

sini, sebentar

pause sebentar, mari telisik ini sedikit. - ini tentang karma. hukum sebab-akibat. ini bukan cuma berakar dari apa yang kita perbuat, ternyata. hujaman ter-hebat karma, justru bersumber dari hal tak kasat mata yang seolah tak punya kekuatan apa-apa terhadapnya; rasa. kadang kapasitas kita terlampau 'hebat' untuk sekadar hanya melaksanakan "pilah yang baik dan buang buruknya". sering berlebihan. padahal kita pernah dengar gosip kalau Tuhan benci yang berlebih-lebihan. tapi manusia, kan, tempatnya khilaf dan lupa (jadi sekadar kilasan info, kalau ada yang bilang, 'ih, lupa naronya dimana ya...' segera tenangkan ia, dan bisikkan jawabannya, 'manusia'). maka jadilah kita sengaja-tak sengaja, melebihkan statement baik barusan, dengan memberikan kesan bahwa apa yang kita 'buang' sudah pasti itu buruk dan kita benci . dari sanalah hukum karma mulai dikirimi surat kerja. akhir kata untuk mengakhiri tulisan singkat-padat-dantidakjelas-tapisemoga...

ka si h (an)

ingin lupa tapi tak bisa ingin bilang 'ya' tercekat gengsi semata ingin cepat takut tak tepat ingin ada yang bukan mengada-ngada nyatanya tiada ingin itu. tapi bukan itu yang .. "itu" ngarang. mana ada, bang.
“Buang sampah sembarangan itu kekerasan.”  Tisna Sanjaya, Si Kabayan.

1 tahun

Image
... semesta itu luar biasa. siapa dulu pemiliknya. segala puji bagiNya{} ah.