Posts

hawa, adam dan shiva

1 percuma sisir pandang sang hawa hanya membuat rambut rontok tanpa hasil adam bersembunyi dalam masa kini hawa salah menyisir kepala adam aman dalam pelukan shiva mendekap shiva lebih hangat lebih hangat lebih hangat sampai habis sudah sisi dingin tubuh shiva 2 hawa berdiri mematung menatap masa depannya merobek lembar-lembar rasa di halaman lampau bukunya walau rusak namun hilanglah babak mencabik dengan sabar puing rasa dalam hatinya walau terluka namun habis tak bersisa melupakan janji-janji tahinya pada dirinya mengambil sebongkah besar tahi untuk adamnya 3 pembual. hawa melempar bongkahan pertama ke dinding ia anggap itu tepat sasaran 4 kasihan, shiva adam adalah isak dalam kebahagiaan malangnya shiva adam adalah tawa dalam keterpurukan shiva sudah buta

12312

Image
Kadang emang gitu ya, kita pingin sesuatu tapi keadaan bikin kita nggak mampu. Ini bukan bicara masalah betapa effort kurang atau betapa semangat yang udah dibangun dari sebuah daftar panjang gol-gol manis, cuma jadi deretan huruf yang terlihat sinis. Kadang emang ada sesuatu yang susah, ya yang emang susah begitu aja. No matter how hard we try, we and that one thing we want the most at the first place, are not meant to be. Tapi hebatnya begini, ketika kita sadar bahwa status kita dan hal ini memang udah nggak bisa disatukan lagi dan memilih untuk menerima kenyataan, justru proses keberterimaan itu nggak akan menyayat-nyayat seperti apa yang kita bayangkan di awal -bahwa tanpa mendapatkan apa yang kita mau, kita nggak tau akan jadi seperti apa kita nantinya. Ternyata semuanya baik-baik saja. Kemudian di ujung jalan pupus pengharapan menuju gerbang baru yang Tuhan tawarkan itu, baru semuanya terungkap; betapa beruntungnya kita bahwa Tuhan dengan segala ke-Maha-anNya, tidak lantas...
jatinangor terlalu ngangenin, bandung terlalu ambisius. capek, lelah.

Mencoba mengerti

akhir-akhir ini saya merasa mempelajari sebuah subjek pelajaran lebih seperti memahami watak seseorang. kenyataannya ilmu memang sehidup itu.  salah seorang dari kita mungkin menganggapnya teman lama, mungkin juga keluarga, yang ketika ada yang membicarakan si subjek, tentu ia tahu pasti tentang bagaimana cara terbaik menghadapinya, kelakuannya, apa yang ia suka, apa yang ia benci, kebiasaannya, segala hal tentangnya.  di sisi lain, salah seorang dari kita bisa saja baru bertemu dengannya. selayaknya sebuah pertemuan pertama, bisa saja meninggalkan kesan baik, kesan buruk, atau bahkan yang terburuk adalah tak berkesan. sebuah pertemuan bisa mengantarkan kita dan dirinya pada pertemuan-pertemuan lain yang dinanti, atau dibenci. yang diterka-akan seperti apa, dipelajari. pertemuan yang membawa seseorang pada pengungkapan kepribadian si subjek lebih jauh.  mungkin dalam proses belajar yang kita perlukan hanyalah berprasangka baik pada sebuah subjek, bahwa mengenalny...

bercerita 1

malam itu kami melakukan meditasi, seperti biasanya. tapi sudah lebih dari dua bulan saya absen semua pertemuan, sehingga dalam lingkaran ini, mungkin hanya saya yang paling lama tidak meditasi. selalu begini, kegiatan ini selalu membawa saya ke fase lebih lanjut dari segala proses yang sedang saya jalani. proses berpikir, proses berencana, segala proses habitual yang diatur oleh rutinitas dan keadaan. segala proses yang sebagian besar dipaksakan, di-adjust sedemikian rupa agar sesuai dengan suatu image ideal di benak saya, di benak orang-orang kebanyakan. macam-macam proses, malam itu, dibawa ke sebuah fase analisis lebih dalam, tentang apa yang sebenarnya saya hindari, selama ini. menyedihkan. sebenarnya kegiatan meditasi kali ini berbasis sebuah rekrutmen dari suatu unit kegiatan mahasiswa di kampus saya yang satu semester belakangan sedang saya geluti. semacam malam puncak setelah kami sukses menghadirkan suatu pentas akbar sebagai tugas besar angkatan, tapi ternyata tidak seba...

Pindah

ingin pindah rumah. mungkin cepat mungkin juga lambat. tapi ingin pindah rumah. karena tautan angka yang berderet berjuta-juta ini sudah terasa tak seharusnya lagi ditambah itu dan ini. apalagi dikali, tapi juga bukan berarti lantas dikurangi, karena masih ada sisa-sisa kisah yang pantas untuk dibagi. dan saya akan berbagi lebih banyak lagi, mungkin. di tempat lain.

Memoar 1 Februari

suatu petang di rumah makan pinggir jalan semangkuk sup ikan  dan ayam bakar dengan sambal yang pula membakar putaran di derajat tapakan kami sudah membuat kami meninggalkan matahari di diam yang sama sama sedang kami selami ia muncul duluan ke permukaan dan berkata:   "jika kau mati "nanti "kauingin dunia mengenangmu sebagai apa? "kauingin aku mengenangmu sebagai apa?" *** ingatan *** pertanyaannya tak pernah akutahu harus jawab apa tapi jika sekarang aku harus mempertanyakan hal serupa padanya aku memilih untuk tidak bertanya karena dia, membentuk sendiri, tentang bagaimana dirinya harus kukenang sebagai apa sebagai siapa sebagai yang bagaimana ***