Posts

Rumah

Image
Lupa. Kadang rumah kita lupakan, sering rumah membuat kita lupa. Sebetulnya impas, tapi tidak juga. Di rumah, aku bisa sarapan dengan khidmat tanpa dibayangi tugas yang pagi itu tenggat atau pun diburu waktu yang mendesak sementara bensin motor sekarat Di rumah, aku bisa membaca setumpuk buku yang tak ada secuilpun hubungannya dengan kuliahku bisa merasa bodoh, tanpa mati kutu Di rumah, aku bisa menjadi aku yang paling buruk rupa tanpa ada yang berkomentar apa-apa pun kalau pun ada, peduliku juga di mana di rumah aku bisa menjadi bagaimana saja Di rumah, ibuku punya asisten yang mencucikan baju menyapu merapikan memasak menyetrika melap porselen melakukan apa pun sampai rumahku jadi keren ia kuat, dan telaten Di rumah, aku bisa tidur sampai melantur lalu bangun, merasa lapar, lalu menuju dapur setelah kenyang, kembali tidur 2014 Merayakan liburan yang telah usai

Membaca Diri

di malam malam kita bertaut dengan diri sendiri kesepian mencoba sembunyi di malam malam itu kita merasa sepi sendiri sembunyi namun dari sana kita hidup kembali dan mengetahui 2014, lebih baik lagi.

Kita, Tanpa Harap Tanpa Cemas, Akan

Kita telah terperosok di jurang yang sama, dengan keadaan tidak paham apa-apa. Tersesat, kala itu acap mengumpat "bangsat", namun kemudian perlahan mengubur penat, dan mengatur siasat. Kita mulai berjalan sebagai 'kami' yang saling meluruskan yang berkelok. 'Kami' yang menjernihkan yang keruh, yang membulatkan yang rapuh, yang membuahkan jawaban untuk setiap persoalan. Kita terus berjalan sebagai 'kami' yang saling memahami. Menjadikan setiap bahu sedia, setiap jiwa senantiasa ada. Kita tetap berjalan sabagai 'kami' yang saling meneriaki rasa takut milik satu sama lain. Menyuntikkan ramuan doktrin dengan dosis paling tinggi bahwa rasa takut kita hanya ilusi yang berjubah emosi. Kita akan terus berjalan bersama, sampai kita bisa menertawakan semua derita lama, sampai kita bisa berdiri tegap dibawah naungan rasa bangga, sampai berbunga semua tunas kita, sampai tua, sampai lupa, dan kembali kepadaNya. Semoga.

Banting

Perjalanan di awal selalu membuatmu menerka-nerka tentang apa yang akan kamu lewati nantinya. Tapi suasana selalu berkata; Sayang, kau cukup bersabar saja, karena kami masih menyimpannya sebagai rahasia, dan kamu cukup meniti langkahmu untuk menyingkap tirai yang kami telah bentangkan dihadapnya. Dan kami berputar-putar di banyak alasan. Dibalut gurauan dan kucur keringat yang tak pernah cukup untuk mereka. Suasana ingin kami memfungsikan keenam indera kami bersama-sama. Bukan melihat tanpa menutup dengar semua ronta. Bukan menyium bau perkara tapi menutup hati terhadap apa-apanya. Bukan berdiri ada, hadir raga, tapi tak bisa merasakan keberadaan keenam puluh delapan jiwa lainnya. Tapi kami tahu kalian tahu bahwa kami berusaha. *** belum calon

Saat pengeras suara mushola bersahutan, menggemakan nyanyian bernama takbir, pukul 1 dini hari.

Pikiranmu terjaga di malam bising penuh suara. Alih-alih mengumpat meronta, dirimu memejam mata-merasakan aliran syukur yg memenuhi rongga dada.  Badan barumu sedang Ia persiapkan, ini playlist terbaik-Nya yang sedang dunia putar. Satu lagu yang tak pernah habis dimainkan. Niscaya, esok kau terlahir kembali. Menjadi apa entah-semua adalah bukan semata apa yang Ia berikan, namun apa yang engkau telah persembahkan. Aku harap apa pun esok kita, kita senang, karena menurut legenda, esok kita semua menang. Aku harap Ia memberi kita semua tenang. Esok? Hari ini? Apalah arti panggilanku untuk waktu ......  kau dan aku mengerti, karena kita sedang berpijak di tanah pertiwi dengan perasaan ingin sekali fitri yang serupa, kan? Dan karena momen ini juga, kan, kita jadi ingat kembali hal bernama maaf dengan segala imbuhan yang menghimpitnya. Selama ini kausimpan di mana caramu agar 'dimaafkan'? Kauselipkan di mana kemampuan hebatmu bernama 'memaafkan'? Lagi, kau lupa. ...

hawa, adam dan shiva

1 percuma sisir pandang sang hawa hanya membuat rambut rontok tanpa hasil adam bersembunyi dalam masa kini hawa salah menyisir kepala adam aman dalam pelukan shiva mendekap shiva lebih hangat lebih hangat lebih hangat sampai habis sudah sisi dingin tubuh shiva 2 hawa berdiri mematung menatap masa depannya merobek lembar-lembar rasa di halaman lampau bukunya walau rusak namun hilanglah babak mencabik dengan sabar puing rasa dalam hatinya walau terluka namun habis tak bersisa melupakan janji-janji tahinya pada dirinya mengambil sebongkah besar tahi untuk adamnya 3 pembual. hawa melempar bongkahan pertama ke dinding ia anggap itu tepat sasaran 4 kasihan, shiva adam adalah isak dalam kebahagiaan malangnya shiva adam adalah tawa dalam keterpurukan shiva sudah buta

12312

Image
Kadang emang gitu ya, kita pingin sesuatu tapi keadaan bikin kita nggak mampu. Ini bukan bicara masalah betapa effort kurang atau betapa semangat yang udah dibangun dari sebuah daftar panjang gol-gol manis, cuma jadi deretan huruf yang terlihat sinis. Kadang emang ada sesuatu yang susah, ya yang emang susah begitu aja. No matter how hard we try, we and that one thing we want the most at the first place, are not meant to be. Tapi hebatnya begini, ketika kita sadar bahwa status kita dan hal ini memang udah nggak bisa disatukan lagi dan memilih untuk menerima kenyataan, justru proses keberterimaan itu nggak akan menyayat-nyayat seperti apa yang kita bayangkan di awal -bahwa tanpa mendapatkan apa yang kita mau, kita nggak tau akan jadi seperti apa kita nantinya. Ternyata semuanya baik-baik saja. Kemudian di ujung jalan pupus pengharapan menuju gerbang baru yang Tuhan tawarkan itu, baru semuanya terungkap; betapa beruntungnya kita bahwa Tuhan dengan segala ke-Maha-anNya, tidak lantas...