Posts

Sekarang

tirai mengadu tubuh pada pinggir tempat tidur embus angin melayangkan badannya perlahan ada cahaya putih menyusup masuk lewat pori pori berukuran milimeter tak tembus kuku kakinya terantuk sudut kaki kursinya yang tajam patah bau darah segar menyeruak sedikit sakit sebaris "sayang" berdiri di layar laptopnya sebuah pesan berhari hari diabaikan pikiran terbang ke jepara beratap langit, beralas pasir pantai menjemput laut yang wanginya  wangi laut asin lembut * Bandung, cerah. mengakhiri semester sulit, menunggu nilai keluar dari silit ugh.

Mata

Mungkin begini rasanya menjadi orang buta Tak pernah tahu, seberapa bulat indah bulan malam, seberapa terang sinarnya Tak pernah peduli, seberapa luas tebar bintang langit, apakah ada yang sedang memikirkan hal serupa Mungkin begini rasanya menjadi orang buta engkau seolah berhenti menerka karena semua yang kausangka menjadi benar adanya Mungkin begini rasanya menjadi orang buta kau membagi beban satu indera pada sisa yang fungsional sama rata Mungkin begini rasanya menjadi orang buta Ada banyak hal yang bisa lebih kauperhatikan ketimbang hal-hal yang hanya bisa mereka lihat dengan mata *** Tempo hari kacamataku patah Dan aku mulai menikmati hari-hari buram yang buramnya tak pernah kusangka

Satu Tahun

Image
satu tahun kukira sudah cukup untuk mengubur semuanya mengikis dua tiga empat perkara yang masih menggantung di langit-langit kepala menimbun buncahan sedih dan bahagia yang dulu letup-letupnya menjalar di dada menyapu kenangan yang melayang-layang di mana entah di mana, mungkin di ruang hampa menyudahi semua rasa lewat kata-kata, pun kata lewat segala rasa satu tahun kukira sudah cukup untukmu mengubur semuanya satu tahun, kukira sudah cukup, untukmu bisa tak mengangkatnya lagi apapun ke muka. karena satu tahun, sudah kucukupkan untukku kembali mengangkat kepala setelah selesai melunturkan luka semoga kaujuga, segera. 13122014. bertambah usia. di petang dingin dengan hujan rintik.  sebatas teringat beberapa patah kata, lalu memutuskan untuk merangkumnya dalam prosa,  dan sekadar menambahkan titik di akhir cerita,  sembari bergumam "semoga.. .

Rumah

Image
Lupa. Kadang rumah kita lupakan, sering rumah membuat kita lupa. Sebetulnya impas, tapi tidak juga. Di rumah, aku bisa sarapan dengan khidmat tanpa dibayangi tugas yang pagi itu tenggat atau pun diburu waktu yang mendesak sementara bensin motor sekarat Di rumah, aku bisa membaca setumpuk buku yang tak ada secuilpun hubungannya dengan kuliahku bisa merasa bodoh, tanpa mati kutu Di rumah, aku bisa menjadi aku yang paling buruk rupa tanpa ada yang berkomentar apa-apa pun kalau pun ada, peduliku juga di mana di rumah aku bisa menjadi bagaimana saja Di rumah, ibuku punya asisten yang mencucikan baju menyapu merapikan memasak menyetrika melap porselen melakukan apa pun sampai rumahku jadi keren ia kuat, dan telaten Di rumah, aku bisa tidur sampai melantur lalu bangun, merasa lapar, lalu menuju dapur setelah kenyang, kembali tidur 2014 Merayakan liburan yang telah usai

Membaca Diri

di malam malam kita bertaut dengan diri sendiri kesepian mencoba sembunyi di malam malam itu kita merasa sepi sendiri sembunyi namun dari sana kita hidup kembali dan mengetahui 2014, lebih baik lagi.

Kita, Tanpa Harap Tanpa Cemas, Akan

Kita telah terperosok di jurang yang sama, dengan keadaan tidak paham apa-apa. Tersesat, kala itu acap mengumpat "bangsat", namun kemudian perlahan mengubur penat, dan mengatur siasat. Kita mulai berjalan sebagai 'kami' yang saling meluruskan yang berkelok. 'Kami' yang menjernihkan yang keruh, yang membulatkan yang rapuh, yang membuahkan jawaban untuk setiap persoalan. Kita terus berjalan sebagai 'kami' yang saling memahami. Menjadikan setiap bahu sedia, setiap jiwa senantiasa ada. Kita tetap berjalan sabagai 'kami' yang saling meneriaki rasa takut milik satu sama lain. Menyuntikkan ramuan doktrin dengan dosis paling tinggi bahwa rasa takut kita hanya ilusi yang berjubah emosi. Kita akan terus berjalan bersama, sampai kita bisa menertawakan semua derita lama, sampai kita bisa berdiri tegap dibawah naungan rasa bangga, sampai berbunga semua tunas kita, sampai tua, sampai lupa, dan kembali kepadaNya. Semoga.

Banting

Perjalanan di awal selalu membuatmu menerka-nerka tentang apa yang akan kamu lewati nantinya. Tapi suasana selalu berkata; Sayang, kau cukup bersabar saja, karena kami masih menyimpannya sebagai rahasia, dan kamu cukup meniti langkahmu untuk menyingkap tirai yang kami telah bentangkan dihadapnya. Dan kami berputar-putar di banyak alasan. Dibalut gurauan dan kucur keringat yang tak pernah cukup untuk mereka. Suasana ingin kami memfungsikan keenam indera kami bersama-sama. Bukan melihat tanpa menutup dengar semua ronta. Bukan menyium bau perkara tapi menutup hati terhadap apa-apanya. Bukan berdiri ada, hadir raga, tapi tak bisa merasakan keberadaan keenam puluh delapan jiwa lainnya. Tapi kami tahu kalian tahu bahwa kami berusaha. *** belum calon