Posts

Pilihan Ganda

Image
aku melihat A menikam punggung B setelah B menikam C setelah C menikam D E terpercik darah B E menikam A A antisipatif maka selamat A mengundang E dalam sebuah kesempatan E datang bersama F A menyuguhkan segelas (yang tampak seperti) susu. hangat. sehingga F yang menyenangi susu (lebih dari apapun) (apalagi hangat) tak ragu untuk melancarkan satu seruput lantas apa? lantas F lumpuh oleh air tuba lantas apa? lantas E terbahak hingga tersedak * adalah sekotak miniatur alam semesta yang sedang bergulir dalam detak-detak tak hingga adalah sebotol mini biang emosi yang satu tetesnya bisa mengenyahkan memori adalah sebuah lingkaran setan dengan dekorasi paling indah dengan setan-setan menjelma bidadari-bidadari paling rupawan adalah pembuktian bahwa tak ada lagi yang bisa aku percaya *** Bandung, 2015 hidup adalah panggung sandiwara

Kesempatan

Dulu ia menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku. Rela menyisihkan uang jajan dan menahan godaan akan kudapan asal-asalan di waktu rehat demi bisa "berbelanja" setumpuk koleksi baru untuk mengisi raknya. Di dalam buku, ia bepergian jauh dan berpikir dengan cara di luar keadaan nalarnya. Dengan buku, sebuah sore remang, dan kesunyian, ia bersama dirinya bersembunyi dibalik kisah suatu sosok dan bergumul dengan banyak jenis perasaan. Dengan buku, sebuah akhir minggu siang malas, dan sekelebat-sekelebat suara kendaraan, ia dapat pulang bergandengan dengan satu relung yang ia temukan di dalam dadanya. Kadang ada rindu, dan ketakjuban di saat yang sama ketika ia  teringat masa lampaunya. Entah sejak kapan kebiasaan itu memudar kemudian perlahan hilang saja. Dan kini bahkan ia sudah lupa di mana letak kenikmatan membaca. Kini bahkan setengah halaman cerita bisa membuatnya mengerjapkan mata. Kini bahkan selembar ratus ribuan terasa lebih nyata untuk dihabiskan bersama ...

Taring Kehidupan

pertama tama diam membungkam mulutmu ada ruang tamu dalam dadaku yang selalu kubuka pintunya untuk kauketuk agar kaudapat masuk. aku hidangkan 2 gelas air mata padamu dari hasilku menangis di perjalanan pulang sore tadi. aku pun bertanya, "mengapa ia mudah sekali menyudahi mimpi-mimpi yang pernah sama-sama kita bangun bersama?" kau pun menjawab, "mungkin dia hanya senang menciptakan mimpi. aku juga hanya senang menciptakan mimpi." aku bertanya lagi, "mengapa tidak kau ciptakan mereka, dan kau simpan semua di bawah kolong tempat tidurmu, tempat dari mana semua iblis akhirnya akan menampakkan diri mereka satu-persatu? dengan begitu mimpimu, dan mimpimu yang beririsan dengan milik siapa saja dapat menampakkan dirinya kelak." lalu kau menjawab, "aku selalu bilang pada siapa saja yang mengiris mimpi mereka untukku, bahwa aku akan melahapnya sampai habis. aku selalu bilang. tapi kau  dan mereka tetap membungk...

Hujan Kini Tak Lagi Sebaik Tadi (Balasan Hujan Bulan Juni - Sapardi)

Image
ini juli dan aku menghujanimu dalam cemas rintik rinduku semakin deras hingga tangkai bungamu meranggas ini juli dan aku menghujanimu dalam isak jalan tapak menujumu kepalang rusak ini juli dan aku menghujanimu hingga habis tak bersisa terlalu banyak buaian kauserap dari semesta kau tak tahu aku yang mana *** Bandung, 2014 bulan berganti, langit menyepi

In Disguise

Image
mungkin saya berdiri di sini dalam banyak tanya. alangkah singkatnya hidup bagi mereka jika dihabiskan untuk tidak bermain-main dengan rasa cinta. *** di sela debur ombak jari mereka bertaut, kening mereka berkerut, mereka tersenyum ke arah sinar matahari yang mulai muncul dari atas bukit. ada hal yang salah dalam perjalanan ini. perasaan mungkin bisa muncul kapan saja, tapi kesempatan untuk mengungkapkannya hanya muncul satu kali dalam seribu momen yang melibatkan mereka. bicara mereka saling berbisik mengingatkan. tentang apa? apa saja yang bisa ditunjukkan sebagai pemberian perhatian. mereka berpikir bahwa yang lainnya buta, padahal merekalah yang dibutakan oleh sekelebat kuat rasa yang akhirnya bisa saling mereka tunjukkan dihadapan laut lepas, tepat di depan karang-karang yang memecah ombak besar. telihat banyak yang masih tertahan meski keduanya sudah saling menyerahkan sepotong besar perasaan mereka (yang entah akan saling mereka jaga atau tidak) yang jelas terlihat ad...

Sekarang

tirai mengadu tubuh pada pinggir tempat tidur embus angin melayangkan badannya perlahan ada cahaya putih menyusup masuk lewat pori pori berukuran milimeter tak tembus kuku kakinya terantuk sudut kaki kursinya yang tajam patah bau darah segar menyeruak sedikit sakit sebaris "sayang" berdiri di layar laptopnya sebuah pesan berhari hari diabaikan pikiran terbang ke jepara beratap langit, beralas pasir pantai menjemput laut yang wanginya  wangi laut asin lembut * Bandung, cerah. mengakhiri semester sulit, menunggu nilai keluar dari silit ugh.

Mata

Mungkin begini rasanya menjadi orang buta Tak pernah tahu, seberapa bulat indah bulan malam, seberapa terang sinarnya Tak pernah peduli, seberapa luas tebar bintang langit, apakah ada yang sedang memikirkan hal serupa Mungkin begini rasanya menjadi orang buta engkau seolah berhenti menerka karena semua yang kausangka menjadi benar adanya Mungkin begini rasanya menjadi orang buta kau membagi beban satu indera pada sisa yang fungsional sama rata Mungkin begini rasanya menjadi orang buta Ada banyak hal yang bisa lebih kauperhatikan ketimbang hal-hal yang hanya bisa mereka lihat dengan mata *** Tempo hari kacamataku patah Dan aku mulai menikmati hari-hari buram yang buramnya tak pernah kusangka